SOCIAL ADVENTURE

BELAJAR SAMPAI KE KAMPUNG NAGA

Oke kawan sekarang saya akan menceritakan pengalaman saya dan rekan-rekan saya ketika kami mengunjungi KAMPUNG NAGA.

Sebelumnya apa sih kampung naga itu?

Jangan berpikiran bahwa kampung naga adalah kampung nya para naga ataupun kampung milik masyarakat yang berternak naga.

Tetapi kampung naga adalah salah satu kampung budaya yang dimiliki Indonesia (kaya perkampungan baduy dan dayak gitu).

Oke langsung saja saya ceritakan tentang perjalanan,pengalaman ,dan pembelajaran kami di kampung naga.

Jadi pada  hari kamis pagi saya dan sekumpulan anak pecinta sosial(anak ips) pergi meninggalkan pondok kami di Tangerang menuju kampung naga di Tasikmalaya.

Setelah jam demi jam kami lewati akhirnya pada pukul 17.30 WIB.kami sampai di lokasi parkir karena lokasi sesungguhnya(kampung naga)berada di lembah jadi kami harus menuruni ratusan anak tangga terlebih dahulu.

Namun seperti biasa sebelum melaksanakan aktivitas selanjutnya kita melakukan pemotretan demi terpenuhinya dokumentasi


setelah pemotretan dirasa cukup akhirnya kami pun menuruni  tangga demi tangga untuk mencapai kampung naga dengan ditemani  seorang guide yang berasal  dari masyarakat asli kampung naga.

Hari menjelang malam sang mentari pun telah hilang dari pandangan, ditambah suasana desa yang tidak membolehkan pemakaian listrik semakin mempersempit jarak pandang kami, dan dengan bersusah payah akhirnya kimipn sampai di kampung naga.

Setelah melaksanakan sholat maghrib kami burkumpul di balai desa untuk pembagian rumah(karena kita tinggal di rumah warga), setelah semua orang mendapatkan rumah(per rumah diisi 7 santri) kamipun pergi kerumah yang telah ditetapkan dibimbing oleh guide-nya dikarenakan pencahayaan yang kurang mempuni.

Setelah sampai rumah kita sudah disediakan makanan oleh yang punya rumah, dan dalam hitungan menit makanan ituu pun sudah habis  tak tersisa.

Dan pada malam hari kita kembali berkumpul di balai desa untuk melakukan wawancara dengan seseupuh kampung(kuncen) ,dan dari wawancara yang kita lakukan kita mendapatkan banyak pelajaran tentang menghargai budaya, toleransi, dan menjaga kebersamaan.

Setelah cukup puas berbincang-bincang akhirnya kita pun kembali ke rumah untuk beristirahat.

Malam pun hilang berganti shubuh akhirnya kita pun keluar kamar untuk mencari kamar mandi terdekat guna bersuci sebelum melaksanakan sholat shubuh.

Setelah melaksanakan sholat shubuh kitapun kembali “berburu” kamar mandi, cukup riskan memang bagi kami untuk mandi ditempat terbuka yang hanya ditutupi bilik setinggi pundak orang dewasa, namun yaa… gimana lagi “dimana bumi dipijak disana langit di jungjung”.

Dikala kami sibuk mencari dan mengantri kamar mandi datanglah salah satu teman kami menceritakan pengalaman nya buang “Hajat” di kampung ini yang mana ketika sudah “turun” langsung diserbu oleh sekumpulan ikan, sotak kamipun langsung “berlomba-lomba” untuk melaksanakan “hajat” kami, dan kamipun berujar kepada teman kami yang lain bahwa “jika ke kampung naga belum buang “hajat” belum afdhol”.

Akhirnya selesai sudah kegiatan jamban kami pun pergi untuk menelusuri kampung naga sebelum melakukan oobservasi terpimpin.

Dan inilah kami………

Setelah puas menelusuri kampung naga kamipun kembali kerumah untuk sarapan dan persiapan observasi.

Dan sekarang kami telah siap untuk melaksanakan observasi………….

Dan inilah obsevasi kami……………..

Dan tak terasa akhirnya waktupun menunjukan pukl 11.00, yang berarti kami harus meninggalkan kampung naga, kamipun segera berkemas dan pamitan kebada para pemilik rumah, dan pada akhirnya kamipun siap untuk pulang.

END we say good bye kampung naga.

Iklan

posting awal

Mungkinkah ini kita?

Hawa panas yang terus berhemus tiada henti berpadu dengan teriknya sinar matahari semakin membuku tak karuan dalam menghadapi pekerjaan ini.

Namaku Asep aku adalah remaja 20 puluh tahun yang bekerja sebagai penjual koran keliling ,yang setiap hari harus berkeliling dari satu jalan ke jalan lain dari satu bus ke bus lain ,begitulah keseharianku dikala orang-orang seumuranku sedang sibuk menuntut ilmu di bangku kuliah.

Terkadang aku merasa iri melihat remaja seumuranku sedang berkumpul di depan kampus mereka untuk berdiskusi tentang mata kuliah mereka,bersanda gurau bersama teman-temannya,atau hanya untuk sekedar makan siang.Hal yang seperti itulah yang selalu membuatku teringat akan masa kemarin,masa yang dimana aku anggap bahagia,masa yang selalu ku anggap paling ceria,namun sesungguhnya masa itulah yang paling mengecewakan dalam hidupku.

Dan dihari ini ketika aku beristirahat di sebuah musholla tanpa kusadari pikirku pun melayang ke masa kemarin,ya masa laluku yang paling mengecewakan,masa sma ku.                                        Karena prestasiku,aku dapat masuk SMA favorit dikotaku.

Pagi itu seperti biasa kelasku selalu ramai oleh canda gurau aku dan teman-temanku hingga candaan itupun berhenti ketika datang suara amarah dari depan kelas “Diam!!! Tak sadarkah kalian bahawa guru kalian sedang berada di dalam kelas?” .dan ya tak salah lagi itu adalah teriakan bu rini guru matematikaku ,guru termuda dikelas ini yang baru 3 bulan mengajar namun sudah sangat prustasi karena tingkah laku kami.

Berpuluh-puluh kali beliau memarahi kami ,berpuluh puluh kali pula kami mengabaikannya,melawannya ,bahkan menertawakaanya.seperti kejadian dipagi itu ketika dia sudah meluapkan amarahnya suasana kelas berubah menjadi sunyi namun selang beberapa detik suasana riuhpun kembali terjadi ,hingga bu rini pun menjadi sangat marah hingga mengeluarkan kalimat bernada sarkasme “sekarang terserah kalian rasakan saja nanti akibatnya!” ,kelaspun kembali sunyi lalu bi rini pun mengambil spidol dan menulis beberapa materi di papan tulis sbelum memulai penjelasan,namun ketika ia menjelaskan hanya beberapa siswa saja yang memperhatikan karena sebagian besar dari para siswa sedang tertidur pulas,begitulah keadaan kami jika tidak berisik seperti dipasar maka kami akan tertidur pulas seperti diatas kasur.

Jam sekolah pun berakhir kami pun terbangun dari tidur kami setelah segelintir teman yang tidak tidur membangunkan kami,ak pun menggerutu dengan sangat kesal “ah elah,ngajarin apa sih gk jelas ,gk diajarin juga bisa ini mah!”lalu teman-temanku pun tertawa dan saling sahut menyahut menyetujui perkataanku, ya perkataan yang akan aku kecewakan di kemudian hari.

tak hanya bu rini yang merupakan guru muda yang kami remehkan ilmunya,dan kami sepelekan nasihatnya tetapi guru-guru seniorpun kami perlakukan seperti itu,sepertti pak tohar guru b.inggris, bu leli guru geografi, pak dindin guru agama dan juga guru-guu yang lainnya.

Hari beriring hari ,minggu melewati minngu,bulan berseling bulan, hingga tahun demi tahun terus berlalu ,aku dan rekan rekanku pun lulus sma,dan aku lulus dengan nilai ujian nasional terbesar kedua di nasional,dan aku sangat yakin dengan nilai yang kumiliki maka aku dengan mudah dapat masuk universitas yang aku inginkan,dan beasiswa pun akan berdatangan padaku.

Namun setelah beberapa kali mencoba mendaftar dari satu universitas ke universitas lain,dan hasilnya pun diluar dugaanku. Tak ada satupun universitas yang menerimaku untuk menjadi seorang mahasiswa di kampus mereka.

ALLAHU AKBAR-ALLAHU AKBAR, buarr,suara adzanpun mengingatkanku dari lamunanku,lamunan di hri kemarin,lamunan masa laluku yang membuatku kecewa,namun memberikan pelajaran yang sangat berharga.

Ketika dulu aku binging mengapa tak ada satupun universitas yang menerimaku ,sekarang aku telah mengetahui dan menyadari apa penyebabnya.ya tak lain dan tak bukan hal itu terjadi karena aku tidak mendapatkan ridho dari guruku ,jadi percuma saja dengan apa yang aku punya,dan apa yang aku lakukan kerena Roululloh pernah bersabda “ridho ALLAH ada pada ridho orang tua” dan aku tidak mendapatkan ridho dari guruku karena tingkah lakuku dan kepongahanku,yang pada dasarnya guruku adalah orang tuaku pula,karena di dunia ini kita memiliki 3 orang tua yaitu ,orang tua biologis kita,orang tua yang memberikan ilmu kepada kita yaitu guru-guru kita ,dan orang tua pasangan hidup yaitu mertua.

Dan kini aku hanyalah seorang penjual koran keliling tetapi aku tidak kecewa pada diriku dihari ini,namun aku kecewa dengan diriku dihari kemarin yang sangat sombong padahal tak memiliki apapun ,yang selalu merasa sok pintar padahal tak memiliki ilmu,yang tak pernah hormat pada guru.

Dan inilah nasibku aku bangga penulisku menjadikan aku orang yang seperti ini karena aku bisa menjadi kaca perbandingan bagi orang-orang yang membaca kisahku.

Hymne of Pondok

ini adalah “hymne of pondok” hymne-nya anak pondok salah satunya pondok daar el-qolam tempatku menuntut ilmu,memperbaiki akhlak,dan membangun karakter yang beradab untuk mengarungi masa depan yang keras dan penuh dengan kebongan makhluk yang tak berakhlak

“salam santri Indonesia “

ELEVENIA - Program Excellent Class *Daar el-Qolam

login-logo

Oh Pondokku, Tempat Naung Kita

Dari Kecil Sehingga Dewasa

Rasa Batin Damai dan Sentosa

Dilindungi Allah Ta’ala

Oh Pondokku, Engkau Berjasa


Pada Ibuku Indonesia

Tiap Pagi dan Petang

Kita Beramai Sembahyang

Mengabdi pada Allah Ta’ala

Di dalam Kalbu Kita

Wahai Pondok Tempatku

Laksana Ibu Kandungku

Nan Kasih Serta Sayang Padaku

Oh Pondokku………..

I….bu….ku……………..

Lihat pos aslinya

makkah-madinah “internasionalkan” B.Indonesia

Hai para pemuda penerus bangsa saya sekedar berbagi pengalaman saat umroh di akhir tahun kemarin,umroh ketika itu sangatlah beda rasanya dengan pengalaman ku di 2010 banyak sekali perubahan terutama dalam hal pembangunan tapi bukan perubahan itu yang aku maksud ,ya seperti telah tertulis dijudul bahasa inilah yang aku maksud sekarang semakin banyak warga makkah&madinah yang menguasai B.Indonesia terutama para pedagang hal itu mungkin cukup beralasan melihat besarnya animo masyarakat indonesia yang ingin melaksanakan haji maupun umroh dan itu menjadi suatu peluang untuk mereka agar bisa lebih banyak mendapatkan para pembeli dari indonesia,tetapi itulah yang membuat B.Indonesia lebih dikenal oleh orang lain dari berbagai negara mengingat 2kota itu (makkah-madinah)adalah pusat sejarah dan peribadahan umat Islam di dunia karena ketika  para pedagang itu berbicara B.Indonesia tentu yang mendengarkan bukan cuma orang Indonesia kawan, tetapi seluruh muslim di dunia yang sedang melaksanakan haji dan umroh.

ayo kawan kita sebagai pemuda Indonesia harus mau berbahasa Indonesia dengan baik dan benar

salam pemuda Indonesia

Gambar

mimpi itu penting

mimpi itu penting

Dari kecil, kita dibiasakan untuk memiliki mimpi. Coba aja ingat sewaktu masih TK, kita sering ditanya, “Kalau udah besar mau jadi apa?” dan kita akan menjawab mau menjadi dokter/insinyur/pilot/apa pun lah yang kita inginkan. Nah, di situ pertama kali mimpi kita bermula. Selanjutnya, semakin kita bertambah usia, semakin kita tahu banyak hal, mimpi kita menjadi semakin tinggi, lebih realistis dan pastinya lebih kompleks.

Namun kadang kita sampai di suatu titik tidak terhindarkan di mana kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kita harus mengevaluasi dan mengambil keputusan yang akan berdampak pada seluruh sisa hidup kita ke depan. Misalnya menentukan jurusan kuliah, memutuskan untuk menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan, memulai atau mengakhiri sebuah hubungan, atau apa pun yang membuat kita harus berpikir lebih dalam karena dampaknya akan sangat besar.

Begitu pun saat mengevaluasi ulang mimpi yang ingin kita capai dalam hidup. Kita telah terbiasa dengan pemikiran bahwa dalam upaya menggapai mimpi, winners never quit and quitters never win. Apa pun yang terjadi, jangan pernah menyerah mengejar mimpi. Jarang sekali ada yang berkata pada kita bahwa ada mimpi yang nggak bisa dicapai. Semua orang menanamkan prinsip jika kita bekerja keras, kita bisa mencapai apa pun yang diinginkan. Itu belum ditambah dengan kisah motivasi dari orang sukses yang membanjiri hidup kita setiap hari.

Tapi apa iya harus seperti itu? Mungkin kalimat motivasi tersebut tepat diberikan pada saat kita masih muda. Masih idealis, punya banyak energi untuk menggapai mimpi dan cita-cita. Namun semakin bertambah usia, semakin banyak realitas yang kita hadapi, kita menjadi semakin sadar: ada hal-hal yang memang tidak mungkin dikejar terus-menerus.

Terutama apabila berkaitan dengan materi (oke, uang maksudnya) yang kita butuhkan untuk bertahan hidup.

Orang mungkin menemukan passion berdasarkan bakat dan kemampuan pada usia yang masih muda. Karena kita menyukai satu hal, sejak saat itu kita pun berusaha keras untuk mewujudkannya. Hal ini bisa dilakukan selama bertahun-tahun—bisa berhasil dengan sukses, namun nggak sedikit yang hanya sampai tahap ‘masih mencoba’.

Jadi menurut saya, bukanlah sebuah hal yang pesimistis dan merendahkan apabila kita mengevaluasi jalan yang kita ambil dan lalu berubah pikiran akan hal tersebut. Karena ada perbedaan jauh antara mencintai suatu hal (passion kita) dan menjadikannya cukup/layak untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Mungkin saja orang-orang terdekat kita nggak mengingatkan karena mereka masih percaya bahwa suatu hari nanti mimpi kita akan tercapai—atau mungkin mereka sudah berkali-kali mengingatkan namun kita yang memang nggak mau mendengar, nggak mau berpikir lebih dalam, dan nggak mau move on dari mimpi tersebut? Karena kadang ada mimpi yang terlalu sulit untuk diwujudkan di dalam kenyataan.

Kalau boleh memberikan contoh, sejujurnya saya nggak pernah berpikir bahwa saya akan berada dalam posisi saya sekarang. Saya sangat menyukai menulis dan berharap menulis dapat menjadi mimpi yang mendukung hidup saya. Seperti orang menjadi musisi terkenal. Dari hobi menjadi pekerjaan, sehingga saya bisa menghasilkan uang dari hobi tersebut. It’s perfect.

Namun selepas kuliah, saya menemukan bahwa jalan menuju kesana sangat berbatu dan sulit. Iya, saya sudah menerbitkan buku dan bisa menulis—tapi apa iya saya akan merasa nyaman menggantungkan hidup saya dari pekerjaan tersebut? Jawabannya mungkin tergantung latar belakang, pola pemikiran, dan pengalaman masing-masing orang. Ada orang yang merasa bahwa itu bisa, tapi untuk kasus saya, saya nggak merasa nyaman akan hal tersebut.

Dan inilah saya sekarang: menjadi bankir yang bekerja lebih dari delapan jam sehari dan mendapatkan gaji setiap tanggal 25. Menulis hanya sebagai hobi yang saya lakukan di sela-sela waktu luang. Kadang merasa nggak cukup—tapi mungkin ini yang harus saya korbankan.

Point saya bukan meminta Anda melepaskan mimpi yang Anda miliki. Tapi, nggak ada salahnya mengevaluasi ulang mimpi Anda—apakah perjalanan kita masih jauh? Apakah kita berada di jalan yang benar?

Perubahan itu, menurut saya, bukanlah sebuah kegagalan. Ibarat kredit macet, kita sedang melakukan restrukturisasi. Hanya saja ini bukan kredit, tapi hidup kita. Membuka babak baru dalam hidup mungkin nggak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi bukan nggak mungkin di dalam babak baru tersebut kita menemukan hal lain yang dapat membawa rasa bahagia yang mirip dengan yang kita rasakan sebelumnya.

Saya setuju bahwa yang namanya mimpi dan passion memang harus dikejar sampai suatu titik tertentu. Namun juga harus disadari kalau mengejar mimpi justru menjadi beban yang sangat besar, mungkin saatnya kita berpikir ulang. Karena nggak ada yang salah dengan berpikir lebih praktis.

beruntung

     yang berhasil meninton arsenal vs timnas itu memang beruntung

tapi yang berhasil menonton di layar kaca pun tak kalah beruntung

karna disini saya tidak bias menonton pertandingan tersebut tapi tak apalah

yang penting timnas kita bias mendapat pelajaran untuk kedepan

dan kita bias menonton langsung timnas kita berlaga di piala dunia

amin